Trek, trek, trek.
Kau tahu? Itu suara apa?
Itu suara sunyi ruang hampa si putih dengan ketakutannya akan banyak hal.
Sebagai awalan, sekedar informasi, bahwasannya aku mulai menulis kembali. Coba lihat tulisan terakhirku! Kamu pasti akan mengira aku penulis moody-an bukan? Yang hanya menulis ketika ingin dan butuh teman bicara.
Hehe, kamu boleh menganggapnya gitu kok, terserah kamu. Aku tak marah.
|Back|
Iya, jadi, akhir-akhir ini ia menyadari bahwasannya segala sesuatu tak perlu dibuat pelik.
Hadapi saja semua dengan enjoy.
Hadapi saja semuanya dengan hati yang lapang.
Hadapi saja semuanya dengan pikiran yang jernih.
Ha? Apa? Hadapi saja katamu?
Loh, iya. Memang biasanya bagaimana? Semuanya bisa dilalui, kan!
Barangkali banyak harapmu tak tergapai.
Barangkali banyak harapmu tak terwujud.
Tapi, barangkali Tuhan-mu punya banyak rencana bombastis untukmu yang kamu tidak ketahui. Itu bisa saja, kan!
Bukan hanya kamu, aku, kita, tapi si Putih juga sedang sedih tentang banyak hal.
Tapi, ku rasa sedihnya kali ini ada yang tidak biasa. Dia sudah memasuki masa puber. Jadi, ya begitu deh.
Tetap berfikir positif seperti si Putih saat ini, ya! Meskipun banyak hal yang ia harap belum terwujud, ia yakin Tuhan-nya punya rencana yang lebih baik dari apa yang sudah ia rencanakan.
Sudah sih, itu saja. Jangan terlalu panjang. Nanti bosan. Lain kali biar aku ceritakan fase-fase puber yang membuat si Putih jadi orang lain. Lain kali ya, kalau tidak ada halangan, alias mager kalo bahasa anak skena. Atau, kalau tidak berubah pikiran.
Terima kasih ya, sudah membaca tulisan ini.
You can support me with your replay, here or anywhere platform. I will appreciate!
Komentar
Posting Komentar